Toko fisik masih punya tempat di tengah pesatnya perkembangan bisnis online. Pelanggan tetap membutuhkan pengalaman berbelanja secara langsung, mulai dari mencoba produk hingga berinteraksi dengan penjual. Karena itu, lokasi dan akses yang strategis juga menjadi faktor penting dalam mendukung bisnis offline. Lantas, apa yang membuat toko fisik tetap diminati hingga 2026?
Baca Juga: Toko Offline vs Online: Mana yang Lebih Untung?
Fakta Pertumbuhan Toko Fisik di Indonesia hingga 2026
Sebelum membahas alasan di balik kebiasaan pelanggan, ada baiknya melihat kondisi pasar ritel Indonesia secara umum. Angka pertumbuhannya memberi gambaran bahwa toko fisik masih punya ruang berkembang yang cukup luas.
Pertumbuhan Pasar Ritel Fisik yang Terus Meningkat
Riset mengenai pertumbuhan pasar ritel Indonesia memperkirakan nilai pasar mencapai sekitar USD 60,09 miliar pada 2026 dan berpotensi tumbuh menjadi USD 79,11 miliar pada 2031, dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 5,65 persen. Angka ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih bergerak naik, dan sebagian besar transaksinya tetap terjadi di gerai fisik.
Menariknya, format toko yang dekat dengan permukiman justru paling banyak menyerap belanja harian. Minimarket dan convenience store tercatat menguasai sekitar 42,38 persen dari total kanal distribusi pada 2025. Artinya, pelanggan cenderung memilih toko yang bisa dijangkau dalam waktu singkat ketimbang menunggu pengiriman.
Pertumbuhan ini juga tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Wilayah seperti Sumatra dan Kalimantan menunjukkan ekspansi yang stabil di kota-kota utamanya, seiring membaiknya infrastruktur transportasi dan pergudangan. Kota berkembang seperti Balikpapan termasuk dalam arus tersebut, di mana kebutuhan akan pusat komersial yang tertata semakin terasa.
Alasan Toko Fisik Masih Disukai Pelanggan
Data pertumbuhan tadi tidak muncul begitu saja. Ada beberapa alasan mendasar yang membuat pelanggan tetap memilih datang langsung ke toko, meski semua barang bisa dipesan lewat aplikasi.
Interaksi dan Kepercayaan yang Terbentuk dari Pengalaman Langsung
Berbelanja di toko memungkinkan pelanggan bertanya secara langsung dan mendapat jawaban saat itu juga. Survei global dari EY Future Consumer Index menemukan bahwa sekitar 32 persen konsumen tetap menginginkan layanan personal yang hanya bisa didapat di toko fisik. Angkanya naik jauh untuk pembelian bernilai besar, dengan 68 persen responden mencari saran dari orang yang benar-benar paham produk.
Percakapan singkat dengan penjual sering kali menjadi penentu keputusan. Pelanggan bisa menyampaikan kebutuhannya secara spesifik, lalu diarahkan ke pilihan yang paling sesuai. Proses seperti ini sulit ditiru kolom chat otomatis yang jawabannya terasa kaku.
Kepercayaan juga tumbuh dari hal sederhana seperti melihat langsung tempat usahanya. Toko yang punya alamat jelas memberi rasa aman, terutama bagi pelanggan yang pernah kecewa dengan pembelian daring.
Kenyamanan Berbelanja secara Fisik dan Faktor Sensori
Ada banyak produk yang penilaiannya bergantung pada indra. Pakaian perlu dicoba, furnitur perlu diukur kenyamanannya, dan makanan perlu dilihat kesegarannya. Riset EY mencatat sekitar 57 persen konsumen ingin melihat, menyentuh, dan merasakan produk sebelum membeli.
Selain itu, toko fisik memberi kepastian yang tidak dimiliki pembelian online. Pelanggan bisa langsung membawa pulang barangnya tanpa menunggu pengiriman, tanpa membayar ongkos kirim, dan tanpa risiko produk datang dalam kondisi berbeda dari foto. Faktor promosi juga berperan, karena sekitar 61 persen konsumen bersedia datang ke toko untuk penawaran yang tidak tersedia di kanal daring.
Peran Lokasi dan Akses Strategis dalam Menjangkau Pelanggan
Sebagus apa pun produk yang dijual, toko tetap membutuhkan pengunjung. Di sinilah lokasi memegang peran besar. Toko yang berada di jalur ramai dan mudah diakses akan lebih sering terlihat, dan visibilitas harian itu berfungsi seperti promosi yang berjalan tanpa biaya tambahan.
Beberapa hal yang biasanya dinilai pelanggan saat memilih toko untuk didatangi antara lain:
- Kemudahan akses jalan dan waktu tempuh dari rumah atau kantor
- Ketersediaan area parkir yang memadai
- Rasa aman dan kenyamanan lingkungan sekitar
- Kelengkapan aktivitas lain di kawasan yang sama
Pola belanja masyarakat saat ini memang mengarah pada format yang menghemat waktu perjalanan. Karena itu, pemilihan lokasi usaha sebaiknya tidak hanya melihat harga sewa atau harga beli, tetapi juga seberapa mudah pelanggan sampai ke sana.
Toko Fisik dan Platform Online Saling Melengkapi lewat Omnichannel
Perdebatan antara offline dan online sebenarnya sudah tidak relevan. Keduanya kini berjalan beriringan dalam satu perjalanan belanja yang sama. Pola perilaku omnichannel shopper Indonesia menunjukkan konsumen berpindah antara media sosial, marketplace, dan toko fisik sebelum mengambil keputusan, sehingga satu transaksi bisa melibatkan beberapa titik sentuh sekaligus.
Kebiasaan ini melahirkan pola yang dikenal sebagai riset online lalu beli offline. Pelanggan membandingkan harga dan membaca ulasan lewat ponsel, kemudian datang ke toko untuk memastikan barangnya. Sebaliknya, ada juga yang mencoba produk di toko lalu memesan variannya secara daring.
Bagi pelaku usaha, ini berarti toko fisik tidak lagi berfungsi semata sebagai tempat transaksi. Toko menjadi ruang untuk membangun pengalaman, menampilkan produk, sekaligus melayani pengambilan pesanan. Kehadiran pembayaran digital seperti QRIS juga membuat proses di kasir semakin cepat.
88 Plaza: Pilihan Ruko di Lokasi Usaha yang Strategis

Bagi pelaku usaha di Kalimantan Timur, 88 Plaza hadir sebagai kawasan komersial modern pertama di Balikpapan dengan konsep Open Plaza. Kawasan ini dikembangkan oleh Paradise Indonesia, pengembang dengan pengalaman lebih dari dua dekade dan portofolio seperti Beachwalk Shopping Center di Bali serta 23 Paskal Shopping Center di Bandung.
88 Plaza menyediakan dua tipe ruko yang berdiri di boulevard utama kawasan. Ashton A merupakan tipe corner dengan luas tanah 6 x 15 meter dan tiga lantai, cocok untuk usaha yang membutuhkan visibilitas maksimal. Sementara Ashton B hadir dengan luas tanah 5 x 12 meter dan jumlah lantai yang sama, dengan fasad modern menghadap arus pengunjung.
Dari sisi lokasi, kawasan ini berada di Jl. Syarifuddin Yoes, Sepinggan, Balikpapan Selatan. Jaraknya sekitar 10 menit dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, 15 menit dari pusat kota, dan 20 menit dari Pelabuhan Semayang. Fasilitas pendukungnya mencakup akses jalan utama, area parkir luas, ruang terbuka hijau, pengawasan CCTV 24 jam, serta estate management yang menjaga kelancaran operasional harian.
Baca Juga: Tips Memilih Bangunan Komersial untuk Bisnis yang Tepat
Kesimpulan
Toko fisik tetap penting karena menawarkan hal yang tidak bisa diberikan layar, yaitu pengalaman langsung, interaksi manusia, dan kepastian sebelum membeli. Selama pelanggan masih ingin melihat dan mencoba produk, bisnis offline akan terus punya tempat.
Namun relevansi itu tidak datang otomatis. Kuncinya ada pada dua hal, yaitu lokasi yang mudah dijangkau dan pengalaman yang membuat pelanggan nyaman untuk kembali. Toko yang berada di kawasan tertata dengan akses baik akan lebih mudah membangun keduanya.
Jika Anda sedang mencari lokasi usaha di Balikpapan, 88 Plaza bisa menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Hubungi tim marketing 88 Plaza untuk informasi ketersediaan unit dan detail kawasan lebih lanjut.



